PANCASILA

July102012

 HAKIKAT PANCASILA

A. DASAR-DASAR HUKUM PENDIDIKAN PANCASILA

            Sebagai dasar Negara RI. Pancasila mempunyai hubungan erat dengan berbagai peraturan perundangan  Negara RI. Dan berbagai dokumen sejarah yang sekaligus juga merupakan/memberikan dasar hukum konstitusional bagi Pancasila.

Peraturan perundang-undangan Negara yang di maksud adalah:

1. PEMBUKAAN UUD 1945

            Dalam pembukaan UUD 1945 (konstitusi Proklamasi) pada alinea ke-4 ditegaskan sebagai berikut:

…..Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar Negara republic Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara republic Indonesia yan berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa (Religius).
  2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab ( Humanis).
  3. Persatuan Indonesia (Nasionalis).
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan (Demokratis).
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Sosialis).

            Kelima sila tersebut menurut ketetapan MPR. NO.II/MPR/1978 Naskah P-4 BAB.II Alinea Pertama disebut Pancasila.

           

2. BATANG TUBUH (ISI) UUD 45

Apabila didalam pembukaan UUD 45 Pancasila sebagia dasar falsafah Negara dicantumkan dengan tegas dalam Alinea ke_4, maka di dalam batang tubuh atau isi UUD 45 pancasila hanyalah dapat kita simpulkan dari ketentuan-ketentuan dalam pasal UUD 45. dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa sebagai dasar falsafah Negara. Pancasila tersurat dalam pembukaan dan tersirat dalam isi UUD 45, Pancasila menjiwai batang tubuh  UUD 45.

Pasal-pasal dalam UUD 45 menyimpulkan, yang mengandung dasar-dasar Negara pancasila antara lain:

1)     Pasal 29 Ayat (1) yang berbunyi: “Negara Berdasarkan Atas Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Ketentuan paal ini adlah sesuai dengan dan mengenai sioa kesatu dari pancasila: “ Ketuhanan Yang Maha Esa”.

2)     A. Pasal 24 Ayat (1) yang berbunyi: “ Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut Undang-undang”.

Ketentuan pasal ini adalah berkenaan dengan Perikeadilan (ADIL).

B. Pasal 27 Ayat (1) yang berbunyi : “Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hokum dan pemerintahan dan wajib menjungjjung hokum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.

C. Pasal 27 Ayat (2) yang berbunyi :”Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Ketentuan dalam pasal 27 ayat (2) ini adalah berkenaan/berhubungan dengan Perikemanusiaan.

Dengan demikian ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pasal 24 ayat (1) dan pasal 27 adalah sesuai dengan dan mengenai sila kedua dari pancasila: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

3)     Pasal 1 Ayat (1) berbunyi: “Negara Indonesia ialah Negara kesatuan, yang berbentuk Republik”.

Ketentuan pasal ini adalah sesuai dengan dan mengenai sila ke 3 dari Pancasila : Persatua Indonesia.

4)     Pasal 1 Ayat (2) berbunyi: “ Kedaulatan adalah di tangan Rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR”.

Pasal 2 Ayat (1) berbunyi :”MPR terdiri atas anggota-anggota DPR, ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan, menurut aturan yang ditetapkan dengan UU”.

Ketentuan-ketentuan pasal 1 ayat (2) dan pasal ayat (1) ini adalah sesuai dengan dan mengenai sila ke Empat dar Pancasila : Kerakyatan Yang Di Pimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.

5)     BAB XIV Berjudul :”Kesejahteraan Sosial”. Dan memuat 2 Pasal sebagai berikut:

a.      Pasal 33 yang berbunyi:

1). Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan;

2). Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara;

3). Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikausai oleh Negara dan dipegunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

b.      Pasal 34 berbunyi:”Fakir miskin dan Anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”.

Ketentuan-ketentuan dalam BABXIV UUD 45 ini adalah sesui dengan dan mengenai sila ke Lima Pancasila: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Dari uraian diatas, jelas terlihat bahwa antara pembukaan dan isi UUD 45 mempunyai pertalian yang erat: seluruh isi UUD 45 dijiwai oleh pancasila sebagai dasar falsafah Negara RI, masing-masing sila dari pancasila mempunyai pertalian bahkan menjiwai ketentuan-ketentuan dalam pasal dari UUD 45.

 

3. KETETAPAN MPR

 

A.   KETETAPAN MPRS NO.XX/MPRS/1966

            (Dinyatakan Tidak Berlaku oleh Ketetapan    MPR NO.III/MPR/2000).

Dalam konsiderans ketetapan MPRS ini ditegaskan, bahwa untuk terwujudnya kepastian dan keserasian hokum, serta kesatuan tafsiran dan pengertian mengenai pancsila dan pelaksanaan UUD 45 perlu adanya rincian dan penegasan mengenai sumber tertib hukum dan tata urutan peraturan perundang-undangan RI.

Selanjutnya dalam isi ketetapan MPRS ini dinyatakan: Pancasila adalah sumber dari segala sumber hokum. Dijelaskan pula bahwa pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita moral luhur yang meliputi suasana kejiwaan serta watak daribnagsa Indonesia itu. Pada 18 Agustus 45 telah dimurnikan dan dipadatkan oleh panitia persiapan kemerdekaan atas nama rakyat Indonesia, menjadi dasar Negara Indonesia yakni Pancasila.

Dalam ketetapan MPRS NO.XX/MPRS/1996 inipun ditegaskan:”Pembukaan UUD 45 sebagai pernyataan kemerdekaan yang terperinci yang mengandung cita-cita luhur dari proklamasi kemerdekaan yang memuat pancasila sebagai dasar Negara merupakan satu rangkaian degan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 45 (Proklamasi 17-81945 adalah sumber pembentukan RI),  dan oleh karena itu tidak dapat diubah oleh siapapun juga, termasuk MPR hasil pemilihan umum”.

Ketetapan MPRS NO.XX/MPRS/1966 ini telah dinyatakan tetap berlaku dan perlu disempurnakan berdasarkan ketetapan MPR NO.V/MPR/1973, kemudian dikokohkan oleh TAP MPR NO.1/MPR/1978 (Pasal 115), NO.1/MPR/1983 (Pasal 104) dan NO.IV/MPR/1998.

                                        

 

B.   KETETAPAN NO.XXV/MPRS1996

Dalam konsideras ketetapan MPRS ini ditegaskan dan ditetapkan bahwa paham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme. Pada intinya hakikatnya bertentangan dengan pancasila. Ketetapan MPRS NO.XXV/MPRS/1996 ini telah dinyatakan tetap berlaku dan perlu disempurnakan, berdasarkan ketetapan MPR NO.V/MPR/1973.

 

 

C.   KETETAPAN MPR NO.II/MPR/1973 

Tentang tata cara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI. Salah satu syarat  yang  harus dipenuhi oleh calon presiden dan wakil presiden menurut pasal 1 ketetapan MPR ini adalah: Setia kepada cita-cita proklamasi 17 agustus 45, Pancasila dan UUD 45.

 

D.   KETETAPAN MPR NO.II/MPR/1978

Menegaskan pancasila seperti tercantum dalam pembukaan UUD 45 merupakan kesatuan yang bulat dan utuh dari kelima sila yaitu: Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Peratuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin olh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, Keadilan social bagi seluruh Rakyat Indonesia.

 

E.   KETETAPAN MPR NO.I/MPR/1983 JO. NO.I/MPR/1993

Tentang peraturan tata tertib MPR:

Dalam pasal 5 ketetapan MPR ini disebutkan bahwa angora MPR  adalah pengemban dan pengutara yang berbudi pekerti luhur dari cita-cita moral pancasila serta setia kepada pancasila sebagai dasar dan ideology Negara, UUD 45 dan Repolusi kemerdekaan bangsa Indonesia untuk mengembangkan ampere. Pasal 104 ketetapan MPR/NO.I/MPR/1983 dengan tegas mengatakan bahwa MPR berketetapan untuk mempertahankan UUD 45 (yang memuat pancasila), tidak berkehendak dan tidak akan melakukan perubahan terhadapnya serta akan melaksanakannya secara murni dan kosekwen.

 

F.    KETETAPAN MPR NO.XVII/MPR/1998

Tentang pencabutan ketetapan MPR NO.II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila (P-4).

Menurut ketetapan MPR ini, pancasila sebagaimana dimaksud dalam pembukaan UUD 45 adalah dasar yang harus dilaksanakan dalam kehidupan bernegara, selain itu TAP MPR ini akan menyatakan P-4 berlaku lagi.

 

G.  KETETAPAN MPR NO.III/MPR/2000

Tentang sumber hokum dan tata urutan peraturan perundang-undangan. Menurut ketetapan MPR ini, sumber hokum dasar nasional adalah pancasila sebagaimana yang tertulis dalam pembukaan UUD 45 dan Batang Tubuh UUD 45.

 

HAKEKAT PENGERTYIAN PANCASILA DAN NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA

Sebagai telah dijelaskan pancasila selalu merupakan satu kesatuan sila yang satu tidak bias dilepas-lepaskan dari sila yang lain, keseluruhan didalam pancasila merupakan suatu keatuan organis atau suatukesatuan yang bulat. Hal ini dapat digambarkan sebagi berikut:

·        Ketuhanan Yang Maha Esa, meliputi dan menjiwai sila II, III, IV, V.

·        Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Diliputi dan dijiwai sila I, Meliputi dan menjiwai Sila II, IV, V.

·        Persatuan Indonesia diliputi dan dijiwai sila I dan sila II, Meliputi dan mnejiwai silaIV, dan V.

·        Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan perwakilan diliputi dan dijiwai sila I, II, III, meliputi dan menjiwai sila V.

·        Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Untuk lebih menjelaskan hal itu dapat diberi contoh berikut:

Paham kemanusiaan kiranya dimiliki juga oleh bangsa-bangsa lain, tetapi bagi bangsa Indonesia pham kemanusiaan sebagai yang dirumuskan dalam sila II itu adalah paham kemanusiaan yang dibimbing oleh Ketuhanan Yang Maha Esa, tegasnya kemanusiaan sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang dimaksud dengan sila ke II diliputi dan dujiwai oleh sila ke I. begitu pula halnya dengan sila-sila yang lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sila-sila II, III, IV, dan V pada hakikatnya merupakan penjabaran dan penghayatan sila ke I.

            Adapun susuna sila-sila pancasila adalah sistematis- hierarkis, artinya kellima sila itu menunjukan suatu rangkaian urutan-urutan yang bertingkat (hierarkis). Tiap-tiap sila mempunyai tempatnya sendiri di dalam rangkaian susunan kesatuan itu sehingga tidak dapat digeser-geser atau dibalik-balik. Ditilik dari intinya, urutan-urutan lima sila itu menunjukan rangkaian tingkat dalam uas dan isi sifatnya. Tiap-tiap sila yang dibelakang sila lainnya lebih sempit luasnya, tetapi lebih banyak “isi sifatnya” dan merupakan pengkhususan sila-sila yang dimukanya.

            Sekalipun sila-sila di dalam pancasila itu merupakan suatu kesatuan  yang tidak bisa dilepas-pisahkan satu dari yang lain. Dalam hal memahami hakikat pengertiannya sangatlah diperlukan uraian sila demi sila. Dalam hubungan ini , sebagaimana dijelaskan dimuka (IV, mengenai kesimpulan). Uraian atau penafsiran itu haruslah bersumber, berpedoman, dan berdasar kepada pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.

 

A.   Hakikat Pengertian Pancasila

1.     Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Ketuhanan berarti dari kata Tuhan, ialah Allah pencifta segala yang ada dan semua mahluk. Sebagai sila pertama pancasila, ketuhana yanga Esa menjadi sumber pokok nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Menjiwai dan mendasari serta membingbing perwujudan kemanusiaan yang adil dan beradab. Penggalangan persatuan Indonesia yang telah membentuk  Negara Republik Indonesia yang berdaulat penuh, yang bersifat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, guna mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

2.     Sila Kedua: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Kemanusiaan berasal dari kata manusia yaitu makhluk berbudi yang memiliki martabat yang tinggi. Dengan akal budinya, manusia menjadi kebudayaan. Dengan budi murninya, manusia menyadari nilai-nilai dan norma-norma.

Kemanusiaan terutama berarti sifat manusia yang merupakan esensi dan identitas manusia karena martabat kemanusiaanya (Human Dignity).

Adil terutama mengandung arti bahw  suatu keputusan dan tindakana didasarkan atas norma-norma yang objektif, tidak subjektif apalagi sewenang-wenang.

Beradab berasal dari kata adab yang berarti budaya. Jadi beradab berarti berbudaya, ini mengandung arti bahwa sikap hidup, keputusan dan tindakan selalu berdasarkan nilai-nilai budaya, terutama norma social dan kesusilaan(moral).

Jadai manusia yang adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan kepada potensi budinurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan  umumnya, baik terhadap diri pribadi, sesame manusia maupun tehadap alam dan hewan.

 

3.     Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Persatuan berasal dari kata satu, yang berarti utuh tidak terpecah belah. Persatuan mengandung arti bersatunya bermacam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan.

Persatuan Indonesia adalah perwujudan paham kebangsaan Indonesia yang dijiwai oleh ketuhanan Yang Maha Esa serta kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena itu paham kebangsaan Indonesia tidaklah sempit (chauvinitis), tetapi dalam arti menghargai bangsa lain sesuai dengan sifat kehidupan bangsa itu sendri.

 

4.     Sila Keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan

Kerakyatan berasal dari kata rakyat, yang berarti sekelompok manusia yang berdiam dalam satu wilayah tertentu. Kerakyatan dalam hubungan sila ke empat ini berarti bahwa kekuasaan yang tertinggi berada ditangan rakyat. Kerakyatan disebut pula kedaulatan rakyat (rakyat yang berdaulat/berkuasa) atau demokrasi (rakyat yang memerintah).

Hikmat kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat dan dilaksanakan dengan sadar, jujur dan bertanggung jawab serta didorong oleh itikad baik sesuai dengan hati nurani.

Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk merumuskan dan atau memutuskan sesuatu hal berdasarkan kebulatan pendapat atau mufakat.

Perwkilan adalah suatu system arti tata cara (prosedur) mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan bernegara, antara lain dilakukan dengan melalui badan-badan perwakilan. Jadi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan berarti bahwa rakyat dalam menjalankan kekuasaannya melalui system poerwakilan dan keputusan-keputusannya diambil dengan jalan musyawarah yang dipimpin oleh pikiran yang sehat serta penuh tanggung jawab baik kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun kepada rakyat yang diwakilinya.

 

5.     Sila Kelima:Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan social berarti keadilan uang berlaku dalam masyarakat disegala bidang kehidupan, baik material maupun spiritual.

Seluruh rakyat Indonesia ber berarti setiap orang yang menjadi rakyat Indonesia, baik yang berdiam di wilayah kekuasaan republic Indonesia maupun warga  Indonesia yang berada di luar negeri. Jadi keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia berarti bahwa setiap orang Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hokum, politik, ekonomi, dan kebudayaan, sesuia dengan UUD 1945 maka keadilan social mencakup pula pengertian adil dan makmur.

Oleh karena itu kehidupan manusia itu meliputi kehidupan jasmani dan kehidupan rohani, maka keadilan itupun meliputi keadilan pemenuhan tuntutan-tuntutan hakiki bagi kehidupan rohani. Dengan kata lain keadilan itu meliputi keadilan di bidang material dan di bidang spiritual. Pengertian ini mencakup pula pengertian adil dan makmur yang dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia secara merata dengan berdasarkan atas azas kekeluargaan.

Sila keadilan social adalah tujuan dari empat sila yang mendahuluinya merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam bernegara yang perwujudannya ialah tata masyarakat adil makmur berdasarkan pancasila.

Ketetapan MPR nomor II /MPR/1978 tentang pedoman penghayatan pengamalan pancasila, memberi petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengamalan sila “Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagai berikut:

1)     Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong royongan.

2)     Bersikap Adil

3)     Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban

4)     Menghormati hak –hak orang lain

5)     Suka memberi pertolongan kepada orang lain

6)     Menjauhi sikap pemerasan tehadap orang lain.

 

 

 

B.    Filsafat Pancasila

Pengertian Filsafat:

Filsafat: Bahasa Arab Falsafah

Bahasa Yunani : Fhilosofhia= Philen=Mencari/mencintai & sofhia=kebenaran/kebijakan.

Pholoshophia= daya upaya pemikiran manusia untuk mencari kebenaran/ kebijaksanaan.

Orang yang berfalsafah adalah orang yang mencintai kebenaran atau mencari kebenaran dan bukan  memiliki kebnaran.

Kebenaran itu relative, sekarang benar tapi mungkin lain waktu tidak benar.

Mencari kebenaran dan tidak memiliki kebenaran itula tujuan dari semua filsafat, dan akhirnya mendekati  kebenaran sebagai kesungguhan. Sedangkan kebenaran yang mutlak hanya ada pada Tuhan YME.

 

Arti Prakttis dari filasafat adalah: berpikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya dengan sungguh-sungguh tentang hakekat sesuatu.

Ilmu filsafat merupakan induk dari ilmu- ilmu VAK

 

Devinisinya adalah:

*) Plato (427 SM- 548 SM) Yunani

Filsafat adalah: I.P yang berminat mencapai kebenaran asli.

*) Aristoteles (382 SM- 322 SM) Murid Plato

Filsafat adalah: I.P yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya: “ Metafisika, Logika, Retorika, Etika, Ekonomi, Politik dan Estetika”.

*) Alfarabi (870 – 950 M) Ahli Filsafat Islam

Filsafat adalah: I.P tentang alam wujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.

*) Immanuel Kant (1724-1804) Ahli filsafat Khatolik.

Filsafat ialah: I.P yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan yang mencakup:

·        Apa yang kita ketahui (Jawab Metafisika)

·        Apa yang harus kita kerjakan (Jawab Etika)

·        Sampai dimana harapa kita ( Jawab Agama)

·        Apakah yang dinamakan manusia (Jawab Antropologi)

Disimpulkan oleh:

bahwa ilmu filsafat adalah: I.P yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ketuhanan, Alam Semesta dan Manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sifat manusia setelah mencapai pengetahuan.

Filsafat adalah pemusatan pemikiran sehingga manusia yang sungguh-sungguh secara sistematik & radikal untuk mencari kebenaran sesuai dengan ruang dan waktu.

Manusia Berakal= Kebenaran Nisbi dan Terbatas.

 

 

C.   Falsafah Pancasila

1.      P.S Sebagai dasara falsafah Negara. 1 Juni 1945

§  Kebangsaan Indonesia

§  Internasionalisme atau Perikemanusiaan

§  Mufakat atau demokrasi

§  Kesejahteraan

§  Ketuhanan

 

2.      P.S dasar falsafah naskah piagam Jakarta 22 Juni 1945

§  Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya

§  Kemanusiaan yang adil dan beradab

§  Persatuan Indonesia

§  Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebjiaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan

§  Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

3.      P.S dasar palsafah Negara dalam pembukaan UUD 1945

§  Ketuhanan Y.M.E

§  Kemanusiaan yang adil dan beradab

§  Persatuan Indonesia

§  Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan

§  Keadilan social bagi seluruh rakyat indonesia

 

4.      P.S UUD Reppublik Indonesia Serikat

§  Kethana Y.M.E

§  Perikemanusiaan

§  Kebangsaan

§  Kerakyatan

§  Keadilan social

 

5.      P.S UUD Sementara 1950

§  Kethana Y.M.E

§  Perikemanusiaan

§  Kebangsaan

§  Kerakyatan

§  Keadilan social

 

6.      P.S Setelah dekrit presiden 5 Juli 1959

§  Ketuhana Y.M.E

§  Kemanusiaan yang adil dan beradab

§  Persatuan Indonesia

§  Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan

§  Keadilan social bagi seluruh rakyat indonesia

 

D.   Fungsi dan Peranan Pancasila

1.      Sebagai jiwa bangsa Indonesia memberikan gerak dan dinamika serta membimbing kearah tujuan masyarakat pancasila

2.      kepribadian bangsa Indonesia menunjukan adanya kepribadian bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa lain

3.      dasar nikri yaitu dasar untuk mengatur penyelenggaraan ketatanegaraan Negara “IPOLEKSOSBUDHANKAM”.

4.      Sumber dari segala sumber hukum. Semua peraturan per-UU harus bersumber pancasila

5.      sebagai perjanjian luhur tgl 18 Agustus 1945 saat PPKI menetapkan dasar Negara pancasila secara konstitusional dalam pembukaan UUD 1945.

6.      Sebagai pandangan hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia bukan sekedar alat melainkan sebagai pandangan hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia

7.      Sebagi cita-cita tujuan bangsa Indonesia. Pancasila dirumuskan pada pembukaan UUD 1945 juga membuat cita-cita dan tujuan nasional

8.      Pancasila satu-satunya alas dalam kehidupan bermasyarakat semua orpol dan golkar, ormas dan lembaga-lembaga kemasyarakatan wajib mencantumkan alas ini dalam anggaran dasarnya.

9.      Pendidikan pancasila sebagai moral pembangunan pembukaan UUD 1945 tolak ukur pembangunan nasional.

10. pembangunan nasional sebagai pengalaman pancasila GBHN.

 

Dalam pidato 01 Juni 1945 ditegaskan bahwa prinsip kesejahteraan adalah prinsip tidak adanya kemiskinan di alam Indonesia. Keadilan social adalah sifat masyarakat yang adil dan makmur, kebahagiaan untuk semua oorang, tidak ada penghisapan, tidak ada penghinaan dan penindasan, cukup sandang dan pangan. Tidak dengan sendirinya kita mencapai kesejahteraan ini meskipun telah ada wakil rakyat. Di Negara-negara Eropa dan Amerika telah ada badan perwakilan, Justru disanalah kapitalis merajalela. Hal ini disebabkan yang dinamakan demokrasi disana hanya demokrasi politik saja, tidak ada keadilan social, tidak ada keadilan ekonomi. Seorang pemimpin pPrancis Jean Jaures menggambarkan demokrasi politik itu sebagai berikut: didalam demokirasi parlementer tiap orang boleh memilih dan menjadi anggota parlemen, tetapi adakah sociale rechtvaadigheid, adakah kenyataan kesejahteraan dikalangan rakyat?

Wakil kaum buruh mempunyai hak politik di dalam parlemen, ia menjatuhkan menteri, besok pagi di tempat ia bekerja, di dalam pabrik ia dapat dilempar keluar jalan raya, dijadikan pengangguran yang tidak mendapat makanan apapun.

Oleh karena itu di dalam pidato 01 Juni 1945 diusulan kepada siding supaya mencari demokrasi yang bukan demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup yakni demokrasi politik dan ekonomi  yang mampu mendatangkan kesejahteraan social. Rakyat Indonesia sudah lama mengharapakan  kedatangan ratu adil. Yang dimaksud dengan ratu adil adalah keadilan social, rakyat ingin hidup sejahtera, rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan dan kurang pakaian, menciftakan dunia baru yang didalamnya ada keadilan dibawah ratu adil.

Oleh karena itu jika memang benar-benar kita mengerti, mengingat dan mencintai rakyat Indonesia, kita harus terima prinsif keadilan social yang bukan saja persamaan politik tetap diatas lapangan ekonomi kita harus nengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama  yang sebaik-baiknya.

Prinsif keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia diwujudkan dalam Bab XIV UUD 1945 yang berjudul “Kesejahteraan Sosial” yang terdiri atas pasal 33 dan 34.

Dalam pasal 33 ditegaskan bahwa:

perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan.

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

3 responses to "PANCASILA"

Axl Dharmasraya on 06:35 PM, 10-Jul-12

Wah...
Jd teringat jaman ane masih makan bangku sekolahan...
Keras sob, makan bangku...
Wkwkwkwkwkwkwkwkwk...

Dopleek Hollow on 12:08 AM, 11-Jul-12

benar kata axl wkwk

maalik on 07:44 PM, 16-Aug-12

ente g puyeng ngetiknya? Apa ngopi? Tp rapi bgt,mantap.
mdah2n bs jd gaya ane postingnya keren. Kunjung pertama nh,jng lupa mampir

Subscribe to comments feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(Some BBCode tags are allowed)

Security Code:
Enable Images


 
Back to top